Berita

Menjaga Warisan Leluhur: Kisah Kesenian Barongan Singo Krido Budoyo di Desa Bumiayu Oleh Tim KKN Undip Desa Bumiayu

  • 17-08-2026
  • PEMDES BUMIAYU
  • 43

Di tengah gempuran arus global yang kian terjadi, namun semangat akan pelestarian budaya di Dusun Tempel, Desa Bumiayu, Kecamatan Weleri kian menyala. Semangat itu terlihat dari eksistensi paguyuban kesenian barongan bernama Singo Krido Budoyo, sebuah kesenian yang hingga kini masih setia menjaga tradisi warisan nenek moyang. Di sini Tim KKN Undip 2026 berkesempatan berbincang langsung dengan Bapak Dwi Agung Setyawan selaku ketua paguyuban, serta salah satu anggota generasi muda paguyuban, untuk menggali sejarah, filosofi, hingga tantangan yang kian dihadapi dalam kesenian ini.

 

Warisan Sejak Sebelum Kemerdekaan

Paguyuban Singo Krido Budoyo ini diperkirakan sudah berdiri sejak sekitar tahun 1940-an, bahkan sebelum Indonesia merdeka, dan telah diwariskan secara turun-temurun hingga generasi ketiga saat ini. Siapa sosok pertama yang membawa kesenian ini ke Bumiayu memang sudah tidak dapat ditelusuri lagi, namun para sesepuh meyakini bahwa Barongan ini sudah ada jauh sebelum mereka lahir. Menariknya, Barongan Bumiayu disebut-sebut menjadi kiblat bagi paguyuban-paguyuban Barongan lain di Kabupaten Kendal, yang banyak meniru bentuk dan gayanya meski tetap mengembangkan variasi masing-masing.

 

Ragam Permainan dalam Satu Pertunjukan

Pertunjukan Barongan di desa ini biasanya diiringi sekitar 15 pengrawit, lengkap dengan dalang, sinden, serta alat musik seperti saron, demung, jedur, sumpret, dan organ. Pertunjukan dibuka dengan Barongan yang menggambarkan sosok singa di tengah hutan, lalu dilanjutkan dengan Dawangan atau ondel-ondel yang melambangkan sosok gaib seperti genderuwo, kuntilanak, atau dewi. Setelahnya tampil Burok yang diadopsi dari kesenian Cirebon, kepang-kepang putri maupun putra, serta Reog yang diadopsi dari Ponorogo. Sesekali, banteng dan macan turut tampil meski tidak selalu ada di setiap pementasan. Setiap sesi berlangsung sekitar setengah jam dengan jeda singkat sebelum berganti ke permainan berikutnya. Ciri khas Barongan Bumiayu terletak pada bentuk kepalanya yang mengutamakan sosok singa dengan corak khas buatan warga setempat, berbeda dengan Barongan Blora yang bentuknya lebih menyerupai naga.

 

Bukan hanya Sekadar Pertunjukan

Bagi para pelaku kesenian ini, Barongan bukan sekadar hiburan. Ada nilai persatuan dan gotong royong yang ingin ditanamkan, terlihat dari kegiatan galang dana rutin seperti pembagian takjil saat Ramadan dan acara Suronan atau merti desa. Hasilnya biasanya dibelikan beras dan kebutuhan pokok, lalu disalurkan kepada anak yatim, janda, dan warga kurang mampu di Dusun Tempel, bahkan sebagian pernah disumbangkan ke empat musala dan masjid setempat.

 

Bangkit dari Keterpurukan

Paguyuban ini sempat vakum bertahun-tahun karena anggotanya sibuk bersekolah, bekerja, atau menikah, hingga peralatannya rusak dan gamelannya sempat dijual oleh pengurus sebelumnya. Titik balik terjadi pada 19 Mei 2023, ketika sekelompok pemuda dari berbagai wilayah Dusun Tempel bersepakat membangkitkan kembali paguyuban ini, bermodalkan iuran seadanya dan hasil pementasan pertama yang sengaja tidak dibagi agar bisa dipakai membeli gamelan baru dari nol. Kini, setelah tiga tahun berjalan, paguyuban ini membuktikan bahwa kekompakan mampu menghidupkan kembali tradisi yang hampir padam.

 

Tantangan dan Harapan

Tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi. Teknologi memang membangkitkan antusiasme anak-anak untuk menonton, tetapi tidak banyak yang benar-benar berkomitmen belajar secara serius. Bantuan dana dari Dinas Kebudayaan pun pernah diajukan lewat proposal, namun hingga kini belum ada kejelasan, sehingga paguyuban tetap berupaya mandiri melalui iuran dan hasil pementasan.

Di akhir wawancara, kedua narasumber berharap seluruh anggota dapat terus rukun dan solid dalam melestarikan budaya ini, serta mengingatkan bahwa nguri-uri budoyo adalah keharusan bagi siapa pun yang masih memiliki jiwa seni.

 

(Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara Tim KKN dengan pengurus dan anggota Paguyuban Barongan Singo Krido Budoyo, Dusun Tempel, Desa Bumiayu, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.)

Share :